Masyarakat Komering Dihantui Stigma
DUA turis asing bertanya kepada sopir mobil sewaan, apakah ia seorang penakut. "Tentu tidak," kata si sopir dengan nada tinggi seraya membuka laci mobilnya. Sopir itu menunjukkan sebilah pisau besar yang ia bawa sebagai alat pertahanan diri. Akan tetapi, sopir itu bersikeras menolak ketika diminta untuk mengantarkan kedua turis itu melewati daerah hunian warga Komering.
MENURUT sopir tadi, banyak kejadian yang sering menimpa kendaraan yang lewat di daerah yang dihuni masyarakat Komering. "Tiba-tiba ban kempes, lalu muncul beberapa orang yang merampok penumpang,
Kisah tersebut tertayang di sebuah situs perjalanan berbahasa Inggris di internet. Tidak diceritakan, apakah akhirnya kedua wisatawan tadi nekat melanjutkan perjalanan melewati wilayah Komering atau mereka menuruti saran sopir untuk mengambil jalan lain.
Satu hal yang jelas, cerita itu merefleksikan kuatnya stigmatisasi terhadap masyarakat Komering sebagai masyarakat yang identik dengan kekerasan dan tindak kriminal. Stereotip itu bahkan sudah "mendunia", seperti yang terlihat dalam tulisan internet berbahasa Inggris di atas.
SUKU Komering adalah salah satu suku yang ada di Sumatera Selatan. Mereka tinggal di daerah aliran Sungai Komering dan hidup dengan bergantung pada pertanian sebagai mata pencaharian utama.
Jumlah populasi orang Komering saat ini diperkirakan sekitar 140.000 jiwa. Mereka terutama bermukim di beberapa kecamatan yang termasuk wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu/OKU (sebelum dimekarkan) dan Ogan Komering Ilir (OKI). Kecamatan Buay Madang, Buay Pemuka Peliung, Belitang, Cempaka, Simpang, Martapura, dan Tanjung Lubuk adalah daerah asli suku tersebut.
Masyarakat Komering banyak yang merasa keberatan dengan anggapan negatif terhadap mereka. Menurut mereka, ibarat sebuah institusi, kejelekan atau kejahatan tersebut dilakukan oleh oknum yang membawa nama Suku Komering.
"Kejahatan muncul lebih karena alasan ekonomis, bukan karena adat kebiasaan. Toh, buktinya banyak figur orang Komering terdidik yang bisa sukses, termasuk Gubernur Sumatera Selatan (Syahrial Oesman- Red) sekarang,
Dalam kesehariannya, masyarakat Komering adalah masyarakat yang taat menjalankan ajaran agama Islam. "Dalam masyarakat Komering, adat sangat dipegang. Orang tua sangat dihormati dan sifat gotong royong pun masih kental.
Akan tetapi, stigmatisasi kekerasan memang kerap menjadi ganjalan bagi warga Komering yang merantau. "Kami mengaku berasal dari
Salah satu kebiasaan yang masih melekat hingga saat ini adalah terbiasa mengantongi pisau lipat ke mana pun pergi.
Bagaimana asal-usulnya citra kekerasan itu bisa melekat pada suku Komering? "Orang Komering itu rasa kesukuannya sangat kuat dan akan makin tampak jika berhadapan dengan kelompok lain,
Sebenarnya, karakter yang keras juga dimiliki oleh mayoritas suku asli Sumatera Selatan lainnya. Akan tetapi, sikap keakuan yang kuat dalam kelompok-kelompok masyarakat Komering menumbuhkan pandangan "kelompok kami" (in group) dan "kelompok luar" (out group) yang kuat.
Akibat dari sikap etnosentris ini, masyarakat dalam kelompok itu sukar untuk mengubah kebiasaan mereka meskipun mereka menyadari sikapnya salah. "Dalam masyarakat Komering, sifat-sifat itu berkembang menjadi stereotip sebagai masyarakat yang keras, egois, dan tidak mau mengalah.
Pada masyarakat Komering, sifat pengelompokan tersebut juga dipengaruhi sistem pemerintahan desa pada masa pemerintahan Belanda dan Kesultanan Palembang yang disebut dengan "marga". Marga terbentuk dari kesatuan dusun-dusun.
Masyarakat penghuni dusun tersebut disatukan oleh ikatan keturunan yang kuat antarmereka dan rasa kepemilikan atas wilayah yang mereka diami. "Karena tidak semua wilayah marga itu subur, muncul kecemburuan terhadap warga dari marga lain meskipun sesama suku Komering.
Sejarah perkembangan masyarakat untuk mempertahankan hidupnya, kerap diwarnai oleh kekerasan. Termasuk yang dilakukan oleh masyarakat Komering yang terbagi dalam marga-marga.
"Ditambah ada kecenderungan untuk cari gampangnya saja sehingga mendorong kejahatan oleh kelompok.
Namun, tingkat kesejahteraan lebih dominan untuk memicu terjadinya kriminalitas. "Marga yang wilayahnya gersang biasanya penghuninya lebih temperamental dan cenderung lebih berani melakukan kejahatan.
Tekanan ekonomi memang bisa menjadi pemicu seorang individu melakukan tindakan ilegal. Jika ditelusuri, sejumlah daerah Komering yang tergolong rawan adalah daerah yang kalah makmur dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Daerah tersebut bahkan menjadi daerah yang ditakuti oleh masyarakat Komering sendiri.
Sebutlah ruas jalan yang menghubungkan Kecamatan Martapura dengan Kecamatan Cempaka atau ruas jalan dari Kecamatan Simpang menuju Lampung yang melewati daerah Kota Baru. Warga sekitar pun memilih untuk tidak melintasi jalan tersebut sendirian pada siang hari, terlebih lagi pada malam hari.
"Justru siang bolong itu sering kejadian orang digerandong (dirampok), pengemudinya dianiaya, lalu motornya dirampas.
Warga Belitang yang tergolong makmur karena memiliki sawah irigasi sehingga mampu panen tiga kali dalam setahun termasuk yang kerap menjadi sasaran empuk. Jangan heran jika petani di Desa Kurungan Nyawa, Belitang, yang cukup mampu pun memilih tidak memperlihatkan kesejahteraannya secara mencolok.
Dari segi ekonomi, stigma kerawanan daerah Komering tentu sangatlah merugikan, apalagi jika menimbang potensi pertanian, perkebunan, dan jasa angkutan. Sebagai ilustrasi, meskipun ruas jalan yang menghubungkan Palembang- Kayu Agung-Martapura lebih mulus dan jaraknya lebih pendek daripada ruas Palembang- Baturaja-Martapura, namun angkutan barang dan penumpang memilih untuk menghindari jalur tersebut. Lagi-lagi karena faktor keamanan.
"Stigma kekerasan akan terus menempel dan justru akan mematikan daerah itu. Masyarakat akan cenderung menganggap orang yang lewat sebagai musuh.
Jika tingkat kesejahteraan dan pendidikan diperbaiki, tentu akan ada perubahan sikap di masyarakat. Tanpa itu, masyarakat Komering akan terus dihantui oleh stigma,"
Presented By KOMERING
Copy Right 2007 (DOTY DAMAYANTI)







![Validate my RSS feed [Valid RSS]](valid-rss.png)





September 20, 2007
nyak ambaca tulisansa, ribang rasa hatiku. Luh tiyak mak tirasa ngalilih di bihngomku.Kolpahku / iwariku kita musti ngarasa sonang lahir sebagai jolma kumoring. Takdir, gantasa kita jalani bagawoh. Api haga hulun kita ladini, tapi kita mak nyopok masalah. barani, mak angka sai tikarabai. Tapi, dang gakabuang, hati-hati, tarima kasih. kolpahmu.
September 28, 2007
apa yang di tulis disini mungkin terlalu berlebihan. karena saya asli komering kebetulan saya lahir di jakarta dan besar dijakarta. saya kuliah dipalembang dan sering pulang ke kampung saya di muncak kabau baik itu siang ataupun malam hari tidak ada masalah. masalah keamanan dan keselamatan kita dalam perjalanan tergantung kita berjalan.
October 03, 2007
sedikit iformasi:
Kom. Ulu, sebelah hulu, Martapura. Paling Hilir, Gunung Batu. Makan= Mengan=Mongan. dari Martapura s/d Muncakkabau;"Mengan". Dari Riang Bandung s/d Gunung Batu;"Mongan". Jadi cara pengucapannya ada yang "o" dan ada yang "e". Untuk berbicara bahasa Komering="kumoring", tidak bisa kursus, tapi harus nyemplung langsung di masyarakat. Tapi kalau ada yang mau buka kursus, silakan saja. Sebelum basa Kumoring lobon("lebon")= hilang. Thanks
November 15, 2007
Memang kadang kita miris juga mendengarnya, torus torang nyak miwang ndongina, ngapi jolma juk sina manoduh sai makwat-makwat rik jolma komering, terus terang aku lahir di Sei Batang Palembang, orang tuaku asli kelahiran Cempaka OKU, pernah aku kenalan dengan sebuah keluarga di Yogya kebetulan aku waktu itu kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta disana, mereka menanyakan asal usulku, aku katakan bahwa aku berasal dari Palembang, mereka kulihat kaget, tapi kukatakan tidak semua orang Komering itu jahat, sama dengan suku lainnya, ada yang jahat dan ada yang baik, tapi mereka sudah terkena hasutan dari oknum-oknum yang ingin menjatuhkan orang komering, nyatanya aku diterima dikeluarganya, aku akan berusaha semampuku untuk mematahkan stigma itu, yang penting kita harus bersatu, aku terus terang bangga sebagai orang Komering, yang penting kita memegang prinsip tadi:"Dang mulai mona, dang lijung aman kok tiboli" Salam kolpah-kolpahku kaunyin
October 20, 2008
Iqbal_oku@yahoo.com
Memang dulu terkenal bahwa daerah komering itu benar-benar menyeramkan saya juga sering jalan malam baik kepalembang atau ke buay madang. dan beberapakali hampir dihadang cuma mereka mengurungkan niatnya......
tapi semenjak boss-bossnya telah meninggal berturut-turut karena sakit Cek Aman, Sul Mutung dan Ipong meninggal agak berkurang kejahatannya....karena tinggal 2 orang saja yang masih hidup yang berani menampung barang rampokan baik sepeda motor mau pun barang lain. tapi kedua orang ini tidak terang2an seperti ketiga orang lain yang telah meninggal tersebut.
March 02, 2009
aku Iwan, lahir di Palembang, wong tuo aku asli komering ulu, yaitu Gunung Terang, aku minta jangan terlalu menyudutkan wong komering, itu cuma sebagian kecik pecak itu, seluruh masyarakat sumsel samo bae bertemperamental mudah tesinggung, kalu sudah tesinggung lading / pisau bicara. Wong komering banyak yang pintar dan jadi pejabat khususnyo di jakarta, banyak yang jadi jendral, di palembang apolagi. salam galo budak palembang dari iwan di jakarta. kito idak pernah jual, tapi kalu ado yang jual kito beli, salam mati dem asal top
July 30, 2009
liat aja kan org komering pada tersinggung dg uraian di atas.. baru uraian lho. gimana kalo yg nulis ngomong berhadapan langsung :)
kenyataannya memang gitu mau gimana lagi.
bibi saya menikah dg lelaki komering yg sarjana agama dr IAIN dan telah mempunyai 4 orang anak. perangainya benar2 buruk. anak2nya pun demikian.
sifatnya iri dengki yg sanget berlebihan. hobinya merebut jabatan orang lain. hobinya nanya apa jabatan apa pangkat orang lain. penginnya dia aja yg jd orang hebat. seluruh tetangga tahu. serem kan. mereka jg hobi ngambil harta orang tua gimana pun caranya ditempuh agar harta orang tua sang istri bisa dikuasainya.