Google

Pulsa Murah 1 Card All Operator

Pulsa Elektrik Murah

Komering.....What a beautiful Place

Di sumatera selatan sendiri ada berbagai macam suku yaitu Suku Ogan, Suku Komering, Suku Ranau, Suku Kisam, Suku Daya, Suku Aji, Suku Musi, Suku Rawas, Suku Beliti, Suku Banyuasin, Suku Kikim, Suku Semendo, dan Wong Palembang (Taqwa, 1997:18).

Khusus untuk Wong Palembang yang berdiam di dalam kota Palembang, mereka adalah sisa-sisa kerabat bangsawan Kasultanan Palembang, di mana kerajaan ini telah lama dihapuskan oleh kolonialis Belanda.

Sedangkat suku komering berasal dari nama sebuah sungai yang membentang sepanjang wilayah yang dikenal dengan anama sungai atau wilayah komering, Melalui sungai itulah aktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidup menjadi mudah dilakukan. Secara tradisi masyarakat mengidentifikasikan dirinya berdasar pola tempat tinggal mereka yang berada di sekitar aliran sungai. Masyarakat atau suku Komering adalah masyarakat yang tinggal di sekitar aliran Sungai Komering. Begitu pula suku Ogan adalah masyarakat yang bermukim di pinggir Sungai Ogan, suku Musi bermukim di sekitar Sungai Musi, suku Rawas bermukim disekitar Sungai Rawas. Tradisi masyarakat ini kemudian mengalami perubahan sosial seiring masuknya perusahaan-perusahaan besar yang bergerak dalam pertambangan atau perkebunan.

walaupun stigma yang selalu melekat pada masyarakat komering sangat kental akan watak dan perangai yang keras dan tempramental,hal ini banayak di jumpai dalam hampir setiap literatur dan ada dalam perbincangan baik secara forum yang resmi dan non formal,

Berbagai penelitian mengungkapkan banyak faktor yang mengakibatkan “STIGMA” itu terus berkembang dan menjadi momok tersendiri bagi masyarakat komering, sebagai contoh kadang kala orang komering sendiri akan menyangkal asal daerahnya ketika di tanya dari daerah mana dia berasal, entah karena kebetulan atau memang seperti itu “tanggapan”orang tentang eksistensi komering sendiri.

Dari berbagai pendapat yang keluar dan muncul dipermukaan sesungguhnya ada nilai yang sangat indah yang dimiliki komering,mulai dari cara hidup maupun keseharian serta adat kebiasaan yang selalu dipegang oleh orang komering.

Keunikan ini tercermin dalam pernikahan yang pada umumnya terjadi pada orang komering, ada 3 (tiga) bagian makan-makan (semacam resepsi) selain tamu yaitu pihak yang dituakan (khusus laki-laki), wanita (telah menikah biasanya yang mebantu gotong royong) dan yang ketiga adalah pemuda dan pemudi semua peralatan makan mulai dari piring hingga lauk pauk mulai dari setting meja hingga pembersihan alat-makan biasanya diprakarsai oleh pemuda dan pemudi sedangkan wanita (yang telah berkeluarga) pada umumnya memasak. Ajang makan bersama pemuda pemudi juga disebut sebagai ajang mencari jodoh karena pada saat itu ada acara yang dikhususkan bagi kaum muda dan mudi yaitu makan bersama dalam satu “nampan” besar yang biasanya satu nampan untuk 3-4 pemuda yang terpisah dari nampan pemudi tetapi tetap satu ruangan besar, yang tentunya setelah orang-orang yang dituakan makan terlebih dahulu,momen ini sangat ditunggu oleh kaum muda mudi komering,semacam telah menjadi kebiasaan pada masyarakat komering hal ini telah terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama, inilah yang selalu membuat orang komering merasa dekat dan memiliki tali persaudaraan yang kuat.

Selain hal unik yang terjadi pada saat pernikahan tersebut ada juga kebiasaan masyarakat komering yang masih ada sampai sekarang yaitu kebiasaan GORO (gotong royong) yang dilakukan dengan suka rela tanpa “diupah”, segala aktifitas dalam pernikahan dilakukan secara gotong royong mulai dari mempersiapkan dekorasi rumah pengantin sampai pada tahap pembersihan peralatan,dari GORO yang dilakukan biasanya disertai memasak makanan ringan seperti empek-empek, model,tekwan dan sebagainya yang akan dibagikan kepada orang yang ikut dalam GORO ini,baik makan ditempat maupun dibagikan kerumah-rumah sebagai ucapan terima kasih atas keikuut sertaannya,dan masakan yang akan digunakan untuk tuan rumah sebagai hidangan santap pada hari pernikahan, GORO juga dihadiri oleh pemuda dan pemudi dimana ajang ini juga disebut ajang mencari jodoh yang biasanya beberapa malam sebelum pernikahan berlangsung anak lelaki “menjemput”anak perempuan (dengan modal lampu petromaks keliling kampung) untuk diikut sertakan dalam kegiatan GORO yang tentunya harus meminta izin kedua orang tuanya, dan si perempuan hanya akan keluar bila mendapat izin dari orang tuanya biasanya sang ayah dan apabila goro pada malam hari itu telah selesai kewajiban pemuda untuk mengantarkan pemudi sampai bertemu dengan orang tua sipemudi tersebut didepan rumah.

Keunikan yang selalu ada pada masyrakat komering akan selalu mewarnai dan menjadi bahan tulisan penulis.......bagaimana kisah percintaan orang komering, bagaimana asyiknya memetik duku yang pada waktu dahulu digunakan sebagai ajang pencari jodoh hmmmm akan kusambung dalam tulisan berikutnya.......met membaca

Masyarakat Komering Dihantui Stigma

DUA turis asing bertanya kepada sopir mobil sewaan, apakah ia seorang penakut. "Tentu tidak," kata si sopir dengan nada tinggi seraya membuka laci mobilnya. Sopir itu menunjukkan sebilah pisau besar yang ia bawa sebagai alat pertahanan diri. Akan tetapi, sopir itu bersikeras menolak ketika diminta untuk mengantarkan kedua turis itu melewati daerah hunian warga Komering.

MENURUT sopir tadi, banyak kejadian yang sering menimpa kendaraan yang lewat di daerah yang dihuni masyarakat Komering. "Tiba-tiba ban kempes, lalu muncul beberapa orang yang merampok penumpang,

Kisah tersebut tertayang di sebuah situs perjalanan berbahasa Inggris di internet. Tidak diceritakan, apakah akhirnya kedua wisatawan tadi nekat melanjutkan perjalanan melewati wilayah Komering atau mereka menuruti saran sopir untuk mengambil jalan lain.

Satu hal yang jelas, cerita itu merefleksikan kuatnya stigmatisasi terhadap masyarakat Komering sebagai masyarakat yang identik dengan kekerasan dan tindak kriminal. Stereotip itu bahkan sudah "mendunia", seperti yang terlihat dalam tulisan internet berbahasa Inggris di atas.

SUKU Komering adalah salah satu suku yang ada di Sumatera Selatan. Mereka tinggal di daerah aliran Sungai Komering dan hidup dengan bergantung pada pertanian sebagai mata pencaharian utama.

Jumlah populasi orang Komering saat ini diperkirakan sekitar 140.000 jiwa. Mereka terutama bermukim di beberapa kecamatan yang termasuk wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu/OKU (sebelum dimekarkan) dan Ogan Komering Ilir (OKI). Kecamatan Buay Madang, Buay Pemuka Peliung, Belitang, Cempaka, Simpang, Martapura, dan Tanjung Lubuk adalah daerah asli suku tersebut.

Masyarakat Komering banyak yang merasa keberatan dengan anggapan negatif terhadap mereka. Menurut mereka, ibarat sebuah institusi, kejelekan atau kejahatan tersebut dilakukan oleh oknum yang membawa nama Suku Komering.

"Kejahatan muncul lebih karena alasan ekonomis, bukan karena adat kebiasaan. Toh, buktinya banyak figur orang Komering terdidik yang bisa sukses, termasuk Gubernur Sumatera Selatan (Syahrial Oesman- Red) sekarang,

Dalam kesehariannya, masyarakat Komering adalah masyarakat yang taat menjalankan ajaran agama Islam. "Dalam masyarakat Komering, adat sangat dipegang. Orang tua sangat dihormati dan sifat gotong royong pun masih kental.

Akan tetapi, stigmatisasi kekerasan memang kerap menjadi ganjalan bagi warga Komering yang merantau. "Kami mengaku berasal dari Palembang saja. Masyarakat sudah menilai kami sebagai orang yang keras, apalagi jika ketahuan berasal dari Komering. Kesannya, kami ini jahat.

Salah satu kebiasaan yang masih melekat hingga saat ini adalah terbiasa mengantongi pisau lipat ke mana pun pergi.

Bagaimana asal-usulnya citra kekerasan itu bisa melekat pada suku Komering? "Orang Komering itu rasa kesukuannya sangat kuat dan akan makin tampak jika berhadapan dengan kelompok lain,

Sebenarnya, karakter yang keras juga dimiliki oleh mayoritas suku asli Sumatera Selatan lainnya. Akan tetapi, sikap keakuan yang kuat dalam kelompok-kelompok masyarakat Komering menumbuhkan pandangan "kelompok kami" (in group) dan "kelompok luar" (out group) yang kuat.

Para anggota in group kerap bersikap antipati atau antagonis terhadap anggota out group yang menjadi lawannya. Perasaan ini dapat menjadi dasar terbentuknya suatu sikap yang disebut etnosentrisme. Soekanto (1990) menjabarkan bahwa anggota kelompok sosial tertentu cenderung menganggap kebiasaan yang dimiliki kelompoknya adalah sesuatu yang wajar.

Akibat dari sikap etnosentris ini, masyarakat dalam kelompok itu sukar untuk mengubah kebiasaan mereka meskipun mereka menyadari sikapnya salah. "Dalam masyarakat Komering, sifat-sifat itu berkembang menjadi stereotip sebagai masyarakat yang keras, egois, dan tidak mau mengalah.

Pada masyarakat Komering, sifat pengelompokan tersebut juga dipengaruhi sistem pemerintahan desa pada masa pemerintahan Belanda dan Kesultanan Palembang yang disebut dengan "marga". Marga terbentuk dari kesatuan dusun-dusun.

Masyarakat penghuni dusun tersebut disatukan oleh ikatan keturunan yang kuat antarmereka dan rasa kepemilikan atas wilayah yang mereka diami. "Karena tidak semua wilayah marga itu subur, muncul kecemburuan terhadap warga dari marga lain meskipun sesama suku Komering.

Sejarah perkembangan masyarakat untuk mempertahankan hidupnya, kerap diwarnai oleh kekerasan. Termasuk yang dilakukan oleh masyarakat Komering yang terbagi dalam marga-marga.

"Ditambah ada kecenderungan untuk cari gampangnya saja sehingga mendorong kejahatan oleh kelompok.

Namun, tingkat kesejahteraan lebih dominan untuk memicu terjadinya kriminalitas. "Marga yang wilayahnya gersang biasanya penghuninya lebih temperamental dan cenderung lebih berani melakukan kejahatan.

Tekanan ekonomi memang bisa menjadi pemicu seorang individu melakukan tindakan ilegal. Jika ditelusuri, sejumlah daerah Komering yang tergolong rawan adalah daerah yang kalah makmur dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Daerah tersebut bahkan menjadi daerah yang ditakuti oleh masyarakat Komering sendiri.

Sebutlah ruas jalan yang menghubungkan Kecamatan Martapura dengan Kecamatan Cempaka atau ruas jalan dari Kecamatan Simpang menuju Lampung yang melewati daerah Kota Baru. Warga sekitar pun memilih untuk tidak melintasi jalan tersebut sendirian pada siang hari, terlebih lagi pada malam hari.

"Justru siang bolong itu sering kejadian orang digerandong (dirampok), pengemudinya dianiaya, lalu motornya dirampas.

Warga Belitang yang tergolong makmur karena memiliki sawah irigasi sehingga mampu panen tiga kali dalam setahun termasuk yang kerap menjadi sasaran empuk. Jangan heran jika petani di Desa Kurungan Nyawa, Belitang, yang cukup mampu pun memilih tidak memperlihatkan kesejahteraannya secara mencolok.

Dari segi ekonomi, stigma kerawanan daerah Komering tentu sangatlah merugikan, apalagi jika menimbang potensi pertanian, perkebunan, dan jasa angkutan. Sebagai ilustrasi, meskipun ruas jalan yang menghubungkan Palembang- Kayu Agung-Martapura lebih mulus dan jaraknya lebih pendek daripada ruas Palembang- Baturaja-Martapura, namun angkutan barang dan penumpang memilih untuk menghindari jalur tersebut. Lagi-lagi karena faktor keamanan.

"Stigma kekerasan akan terus menempel dan justru akan mematikan daerah itu. Masyarakat akan cenderung menganggap orang yang lewat sebagai musuh.

Jika tingkat kesejahteraan dan pendidikan diperbaiki, tentu akan ada perubahan sikap di masyarakat. Tanpa itu, masyarakat Komering akan terus dihantui oleh stigma,"

Presented By KOMERING

Copy Right 2007 (DOTY DAMAYANTI)

Komering Pun Beradat Istiadat

MELEWATI wilayah Komering, pengguna jalan memang harus hati-hati, terutama pada pekan-pekan setelah hari raya Lebaran. Bukan karena ancaman pemerasan atau perampokan, tetapi karena pekan-pekan tersebut banyak dilaksanakan acara pesta pernikahan.

SALAH satu rangkaian ritualnya, yaitu mengarak calon pengantin laki-laki ke rumah pengantin perempuan, selalu mengakibatkan kemacetan.

Bayangkan jika sepanjang ruas jalan Kayu Agung, ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ilir, dan Martapura, ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, ada lima keluarga saja yang mengadakan acara perkawinan.

Barisan keluarga mempelai laki-laki dengan membawa berbagai macam hantaran berjalan kaki menuju rumah calon besannya. Tak ketinggalan para pemusik kelintang yang memainkan musik di sepanjang perjalanan, menjadikan prosesi arak-arakan tersebut sebagai tontonan yang menarik.

Upacara perkawinan tersebut adalah bagian dari adat yang masih dipegang oleh masyarakat Komering. "Dalam kesehariannya, masyarakat Komering masih memegang baik adat maupun ajaran agama Islam.

Perkembangan zaman, telah mengikis sejumlah adat kebiasaan masyarakat Komering. Namun, sejumlah kebiasaan belum sepenuhnya hilang, termasuk hal yang sangat sederhana, yaitu kebiasaan memelihara rambut panjang.

Masyarakat Komering yang patrilineal sangat membatasi gerak kerabat perempuan mereka. Di dalam keluarga, laki-laki bertugas menjaga martabat saudara perempuan dan keluarganya. Posisi laki-laki tersebut banyak disimbolkan dalam acara-acara adat.

Dalam rangkaian upacara perkawinan Komering dikenal ritual kandang ralang, yaitu pasangan pengantin diarak dalam kain putih yang panjangnya sampai 60 meter yang bagian tepinya dipegangi oleh sejumlah pemuda.

"Ritual tersebut menyimbolkan bahwa pengantin laki-laki akan menjamin keamanan dan kehormatan keluarga mertuanya.Kehormatan dan harga diri merupakan hal penting bagi seorang Komering. Akan tetapi, mereka sangat pantang mengakui kesalahan di depan orang banyak.

ASAL-usul masyarakat Komering memang tidak begitu jelas. Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia yang diterbitkan LP3ES menyebutkan, seperti kebanyakan kelompok masyarakat di Sumatera Selatan, sistem kemasyarakatan Komering dipengaruhi adat Simbur Cahaya.

Simbur Cahaya adalah kumpulan hukum adat setempat yang diterapkan oleh Kesultanan Palembang. Hukum adat itu selain mengatur penguasaan kesultanan terhadap berbagai sumber daya, juga mengatur beragam aspek sosial, mulai dari perkara pegangan tangan antara laki-laki dan perempuan, kegiatan ekonomi, masalah keamanan lingkungan, hingga politik dalam organisasi pemerintahan marga.

Undang-undang (UU) tersebut juga mengatur wilayah kekuasaan sultan di tingkat marga. Pemimpin marga disebut pasirah. Bawahannya adalah para kepala dusun yang disebut kerio. Selain struktur pemerintahan marga, ada tingkatan-tingkatan keluarga raja adat yang masih keturunan Kesultanan Palembang.

Simbur Cahaya berlaku sebagai UU dengan menerapkan sanksi yang tegas. "Saat hukum adat masih dipegang, laki-laki yang mengganggu perempuan bisa dikenai denda atau sanksi,

hukum adat berperan besar dalam menjaga ketertiban masyarakat Komering. "Tindak kriminalitas memang sudah ada sejak dulu, tetapi kontrol sosial melalui penerapan hukum adat pada masa lalu cukup kuat untuk mengurangi efeknya.

Kuatnya pengaruh hukum adat, tidak lepas dari peranan pemimpin marga. Para pasirah adalah tokoh yang benar-benar disegani karena kekuasaan mereka cukup besar. Mereka memegang fungsi yudikatif, eksekutif, dan kepolisian.

"Dulu, kejahatan-kejahatan kecil biasanya diselesaikan di tingkat marga. Para pihak-pihak yang terkait didamaikan, lalu diadakan sedekah.

Peran hukum adat sebagai pranata sosial masyarakat mulai pupus menyusul dihapuskannya sistem marga oleh Pemerintah RI pada tahun 1983. "Sistem pemerintahan desa tidak punya ikatan yang kuat dengan masyarakat. Sejak itu berbagai masalah sosial pun makin sulit dikontrol.

Meskipun sistem marga sudah tidak berlaku, secara fisik sejumlah peninggalannya masih ada. Di tengah Kota Martapura, kecamatan yang menjadi ibu kota Kabupaten OKU Timur, tegak berdiri bangunan bergaya kolonial yang masih terawat baik. Pada masa Kesultanan Palembang maupun pemerintahan Hindia Belanda, gedung tersebut didiami oleh asisten demang, kepala pemerintahan yang membawahi sejumlah marga.

Pada Zaman dahulu, karena pergaulan antarmuda-mudi sangat dibatasi, orang-orang tua menyelenggarakan pesta adat untuk memberi kesempatan pada kaum muda bertemu,dengan mengenakan kain sarung dan baju kurung, para muda-mudi duduk berhadap-hadapan, bercakap-cakap dengan diawasi orang-orang tua dari kejauhan. "Kalau ada yang ingin berkenalan, biasanya menulis pesan dalam secarik kertas, lalu disampaikan oleh anak-anak kecil yang mendapat imbalan gula-gula,

Kebiasaan menitip surat untuk berkenalan itu hingga saat ini masih lestari di pelosok-pelosok kampung yang didiami masyarakat asli Komering. Meski saat ini pergaulan muda-mudinya sudah jauh lebih longgar dibandingkan dulu, saat adat masih dipegang ketat.

Menimbang suasana kehidupan pada masa marga yang lebih tertib, ada keinginan untuk kembali menghidupkan lembaga tersebut. "Dengan kembali ke sistem pemerintahan marga, maka adat akan kembali hidup.

MESKIPUN stigma sebagai masyarakat yang keras identik dengan masyarakat Komering, mereka cukup terbuka terhadap kehadiran orang luar.


Copyright (2007) DOTY DAMAYANTI

Who Are The Komering

Masyarakat komering hidup dan menempati wilayah bagian tenggara dari kepulauan sumatra, dengan menempuh jarak dua (2)jam dari ibukota Palembang dari tanjung lubuk sebagai pintu masuk komering, nama komering sendiri berasal dari sebuah sungai yang membentang sepanjang daerah tersebut. Mayoritas masyarakat komering memeluk islam.

Komering sendiri terbagi menjadi 2 bagian yaitu Ogan Komering Ilir, Tanjung Lubuk (My Home Town) yang meliputi Kayu Agung atau Hollywood sebagai ibukota kabupatennya dan Ogan Komering Ulu yang meliputi daerah Cempaka,Gunung Jati, belitang, martapura hingga Batu Raja sebagai ibukota Kabupatennya.


Sebagian besar masyarakat komering adalah petani dan penanam buah-buahan,sebagai contoh besar buah yang ditanam didaerah komering adalah durian, mangga, pisang dan yang sangat terkenal adalah duku komering, duku ini sangat mempunyai ciri khas yang sangat berbeda dengan duku-duku dari daerah lain, selain rasa yang manis harga juga dapat di jadikan patokan kwalitas.


House Of Komering

Rumah orang komering pada umumnya adalah berbentuk panggung yang bila dilihat sekilas tidak jauh berbeda dengan model rumah tingkat pada masa sekarang, hanya saja rata-rata rumah orang komering tidak memiliki ruang di bagian dasarnya, karena berfungsi sebagai penahan atau pengaman banjir bila banjir datang, tetapi keadaan ini sedikit demi sedikit mulai beralih fungsi sebagian besar fungsi dari dasar rumah komering selain sebagai tempat istirahat (kamar),ruang tamu dan bagian belakang biasa juga di gunakan untuk toilet yang mempunyai tangga sebagai penyambung tingkat atas yang pada umumnya terletak di bagian dalam rumah, ada juga yang memfungsikan sebagai fungsi ekonomi yaitu dengan membuat warung ataupun rumah makan sebagai tempat transit para pejalan yang menempuh lintas sumatra melalui “lintas tengah”

Language Of Komering

Bahasa Komering sangat berbeda dari bahasa melayu bahkan bahasa palembang walau sebagai salah satu bagian dari wilayah sumatra selatan itu sendiri dan hampir memiliki kemiripan dengan bahasa lampung,tetapi dalam daerah komering sendiri terdapat berbagai macam suku dan bahasa yang berbeda-beda satu sama lainnya.

What Komering Need

Secara Keseluruhan banyak sekali kebutuhan yang harus dipenuhi oleh wilayah komering selain kemiskinan karena satu (1) dari tiga (tiga) orang komering mengalami kelaparan serta kebutuhan akan air bersih dan air sehat sangat diperlukan begitu juga pendidikan karena banyak dari masyarakat komering yang masih memiliki kesempatan kecil mengenyam pendidikan baik.

Alih bahasa dan pengembangan Oleh komering

Dari Joshuaproject.net

Copyright Indonesian National Research Network

Google