Google

Pulsa Murah 1 Card All Operator

Pulsa Elektrik Murah

''Komering'' Apakah sebuah Identitas tabu....? Be Proud Of It

Tulisan ini coba komering angkat agar adanya pengertian yang selaras akan identitas masyarakat komering,

sebuah identitas yang mungkin paling banyak di sangkal dari beraneka ragamnya suku-suku yang ada di sumatera selatan maupun kemungkinan indonesia karena adanya anggapan pada masyarakat komering, dibalik stigma negatif yang ada dimasyarakat luar tentang komering, masyarakat komering dikenal sangat tekun akan beribadah, pandai berdagang dan negosiasi berkebun adalah mayoritas yang dikerjakan masyarakat komering selain bertani.

Dan bila diluar (masyarakat komering rantauan) akan berupaya menyembunyikan identitas komeringnya hal ini pernah komering alami sendiri selagi komering kuliah di yogya sampai suatu ketika komering harus mengingkari identitas komering sebagai orang palembang, sebuah pengalaman yang sangat menyakitkan bahkan pernah suatu saat komering pulang kampung komering pergi ke lemabang (palembang) ke rumah teman yang asli pagar alam untuk mengajak pergi ke kampung komering walau dengan berat hati orang tuanya mengizinkan dengan alasan keamanan dan ke khawatiran.

Itulah sepenggal pengalaman pribadi komering apakah masyarakat komering hanya dikenal sebagai masyarakat yang kenal akan kekerasan dan brutal sehingga hal sepelepun masyarakat luar komering mengingkari akan keberhasilan masyarakat komering ironis memang masyarakat luar komering hanya tahu duku palembang bukan duku komering.

Bagi masyarakat komering sendiri suatu kebanggaan lahir ditanah komering walau entah berasal dari mana dan sejak kapan stigma tersebut melekat pada masyarakat komering, bila dirunut dan ditelusuri sedikit hal ini berkaitan akan kebiasaan masyarakat Sumatera Selatan khususnya masyarakat komering yang gemar membawa lading garpu (sejenis pisau) dipinggang dalam bepergian keluar rumah dan dengan kemajuan akan teknologi dan pola fikir masyarakatnya lambat laun kebiasaan yang sejak lama tersebut mulai ditinggalkan walau tetap memegang prinsip “dang mulai mona dang lijung aman ko tiboli'” sebuah prinsip yang masih akan tetap terpegang oleh masyarakat komering dimanapun.

Dari berbagai cerita dan tulisan yang beredar tentang masyarakat, keseharian dan adat istiadat komering banyak pula yang berisi tentang hujatan dan prasangka tanpa mengetahui latar belakang masyarakat dan sifat pada umunya. Sebuah identitas yang seakan tabu untuk diakui oleh orang komering sendiri karena stigma yang selalu mengikat kami yang muncul entah kapan dan entah sampai kapan. Masyarakat komering hanya berharap dapat memberikan kontribusi nyata pada pembangunan dan pada masyarakat komering sendiri pada umumnya.

Semoga masyarakat komering tidak menjadikan identitasnya sendiri seolah tabu untuk diakui walau sulit dan butuh waktu yang lama setidaknya masyarakat komering memiliki kesamaan dengan masyarakat lain di sumatera selatan dan di indonesia bahkan di dunia manapun masyarakat komering tidak pernah menutup diri akan kemajuan dan perubahan waktu demi waktu.

Sebuah aneka ragaman budaya yang selalu mewarnai kehidupan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara

Who Am I .........

Judul diatas hampir mirip dengan sebuah judul film yang sangat terkenal yang pernah diperankan oleh Jacky Chan, judul tulisan ini sengaja komering angkat karena banyak dari sanak komering dari bertanya apakah penulis asli komering....

penulis adalah asli komering dengan diberkahi nama Syawaluddin (pemberian Ubak) dan Suhaili (pemberian akas)...asli keturunan Komering Ubak dari Ogan Komering Ilir (Tanjung Lubuk) dan Umak dari Ogan komering Ulu (Gunung Jati)...seorang yang berasal dari kalangan nenek moyang seorang petani dan anak dari seorang bapak dari pensiunan PNS dan umak seorang yang mulia akan ajaran dan didikan akan hidup yang sebenarnya.

Awal lebih senang di panggil komering karena memang benar tidak ada yang memesan seseorang akan takdirnya untuk dilahirkan dimana dan dari kalangan keluarga apa.

Dari umur 3,5 tahun komering sudah merantau bersama ubak n umak ke jakarta barat (duri kosambi) bersama saudara kandung sampai usia kelas 4 SD dan sempat ubak memiliki rumah sendiri, usia kelas 5 SD komering merantau ke Sulawesi Tengah (Palu barat) hingga kelas 1 SMA, di Sulawesi ini Ubak juga memiliki rumah sebagai ukuran kesuksesan orang rantau, selanjutnya dari kelas 2 SMA sampai 3 SMA (hanya komering 97' 98) dan keluarga sampai pada tahun '00. komering kuliah di yogjakarta (98-03), pernah kerja di jakarta pada bidang retail selama hampir 2 tahun, dan saat ini komering sudah menikah dengan seorang permainsuri yang jelita asli jawa tengah yang hampir 2 tahun ini mengarungi hidup dengan penuh kesabaran dan kecintaan pada komering.saat ini komering ada dikudus bekerja pada salah satu warnet tapi alhamdulillah komering dan istri (pegawai salah satu bank swasta) masih terus dilimpahi kemudahan dan kenikmatan akan hidup.

Kakak dan adik komering saat ini ada di Jakarta (Ka Nur),Palembang (Ka' Helmi&Ka Herman),Baturaja (Ka' Zul),Temanggung (OQ dan I-One) mereka yang selalu memberi ajaran akan hidup.

Komering rasa saat ini cukup untuk identitas komering terima kasih pada masyarakat komering baik yang di dusun maupun di rantau.

Terima kasih umak dan ubak yang memberi komering kesempatan dalam segala hal

JANGAN PERNAH MENYERAH AKAN HIDUP YANG SINGKAT INI

Google